HUKUM PERLOMBAAN BERHADIAH DAN BALAPAN MERPATI - Permata Salafus Sholih

Breaking

Meniti Aqidah dan Manhaj Para Nabi dan Salafus Sholeh

Anda diperkenankan menyebarkan tulisan-tulisan dalam blog ini dengan selalu menyertakan link sumbernya dan tidak menghilangkan penulisnya. Namun anda dilarang menyebarkannya untuk tujuan komersial.Jika mengabaikan peringatan ini, maka silahkan pertanggungjawabkan kelak pada Yaumul Qiyamah di hadapan Allah ﷻ.

Sabtu, 27 Februari 2016

HUKUM PERLOMBAAN BERHADIAH DAN BALAPAN MERPATI

Dalam postingan sebelumnya, AL-MAHDI DAN PEMALSU HADIST, telah dipaparkan bahwa Ghiyats bin Ibrohim menyampaikan sebuah hadist kepada Al-Mahdi, namun dia menambahi kalimat "أو جناح" dalam hadist itu.

    Kalimat tersebut adalah sebuah tambahan dari sebuah hadist shohih yang menjelaskan tentang hukum perlombaan berhadiah. Dia menambahinya karena ingin Al-Mahdi senang dengan  hobby balapan merpatinya sesuai dengan hadist. Berikut kajiannya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رضي الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا سَبَقَ إِلَّا فِي خُفٍّ، أَوْ نَصْلٍ، أَوْ حَافِرٍ "

“Dari Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata,”Rosulullah ﷺ bersabda,’Tidak ada hadiah perlombaan kecuali dalam pacuan unta, memanah dan pacuan kuda.’”

TAKHRIJ HADIST:

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad no. 10138, Abu Dawud dalam as-Sunan no. 2574, At-Tirmidzi dalam Sunannya no.1700, al-Bazzar dalam musnadnya no. 9115 dan no 9116, an-Nasa’I dalam as-Sunan as- Sugro no. 3585 dan 3586 dan dalam as-Sunan al-Kubro no. 4410, 4411 dan  4414, Ibnu Hibban dalam shohihnya no. 4690 , at-Tobroni dalam al-Mu’jam as-Shogir no. 50, al-Baihaqi dalam as-Sunan as-Shogir no. 3141 dan as-Sunan al-Kabir no. 19747, 19748, 19749 dan 19751. 

Hadist ini dishohihkan oleh Ibnul Qotton (Bayanul Wahmi wal Iiham:5/382-384,tahqiq Dr. al-Husain Ayat Said, Dar Toyyibah, Riyadh, cet. Pertama, 1418 H/1997 M, via MaktabahSyamelah) ,  Ibnu Daqiq al’Id (al-Ilmam Bi ahadiitsil Ahkam: 2/558, tahqiq Husain Ismail al-Jamal, Darul Mi’roj ad-Duwaliyah/Dar Ibni Hazm, Saudi, Riyadh/Libanon/Beirut, cet. Kedua, 1423 H/ 2002 M,via Maktabah Syamelah), Shodrudin al-Munawi berkata at-Turmudzi berkata hadist hasan (Kasyful Manahij:3/349, tahqiq Dr. Muhammad Ishaq Muhammad Ibrohim, ad-Darul Arobiyyah, Beirut, Libanon, cet. Pertama, 1425 H/ 2004 M, via Maktabah Syamelah), Ibnu Hajar mengatakan dishohihkan oleh Ibnu Hibban (Bulughul Marom no. 1316, tahqiq Dr. Mahir Yasin al-Fahl, Darul Qobas, Riyadh, KSA, cet Pertama, 1435 H/2014 M), dishohihkan pula oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwa’ al-Gholil no.1506 (Irwa’ al-Gholil: 5/333, al-Maktab al-Islami, Beirut, cet. Ketiga, 1405 H/1985 M, via Maktabah Syamelah))

Diriwayatkan pula oleh at-Tobroni melalui jalur Ibnu Abbas dalam al-Mu’jam al-Kabir no.1076. dilemahkan oleh al-Haitsami karena terdapat perowi bernama Abdullah bin Harun al-Qorowi (Majma’ Zawahid:5/263, Tahqiq Hasamuddin al-Qudsi, Maktabah al-Qudsi, Kairo, 1414 H/1993 M, via Maktabah Syamelah).

UCAPAN PARA ULAMA TENTANG TAMBAHAN "أو جناح"

 Al-Ajluni rohimahullah berkata:

وزيادة "أو جناح" في حديث "لا سبق إلا في خف"؛ كذب موضوعة باتفاق المحدثين

“Dan tambahan ‘أو جناح’ di dalam hadist ’لا سبق إلا في خف’ adalah dusta lagi palsu dengan kesepakatan para ahli hadist”(Kasyful Khofa’: 2/166, tahqiq Abdul Hamid bin Ahmad, Maktabah Ashriyyah, cet. Pertama, 1420 H/ 2000M, via Maktabah Syamelah)

Imam as-Sakhowi rohimahullah berkata:

وزيادة أو جناح في حديث: لا سبق إلا في خف، كذب كما بينته في شرحي للألفية في الموضوع.

“Dan tambahan ‘أو جناح’ di dalam hadist ’لا سبق إلا في خف’ adalah dusta sebagaimana telah aku jelaskan di dalam penjelasanku terhadap kitab’al-Fiyyah’ tentang hadist maudhu’.”(al-Maqosid al-Hasanah hal. 531, Muhammad Utsman al-Khosat, Darul Kutub al-Arobi, Beirut, 1405 H/1985 M, via Maktabah Syamelah)

Imam as-Syaukani rohimahullah berkata:

وَقَدْ صَرَّحَ الْحُفَّاظُ أَنَّ زِيَادَةَ _ أَوْ جَنَاحٍ _ وَضَعَهَا غِيَاثُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ فِي قِصَّةٍ وَقَعَتْ لَهُ مَعَ الْمَهْدِيُّ العباسي وهي مشهورة.

“Para ahli hadist telah menjelaskan bahwa tambahan ‘أو جناح’ dipalsukan oleh Ghiyats bin Ibrohim di dalam kisah terkenal yang terjadi antara dia dan al-Mahdi al-Abbasi.” (al-Fawaid al-Majmu’ah hal. 174, tahqiq Abdur Rohman bin Yahya al-Mu’allimi, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, Libanon, via Maktabah Syamelah)

KANDUNGAN HADIST.

Dalam hadist ini diperbolehkan adanya hadiah dalam tiga jenis perlombaan, yaitu: pacuan unta, lomba memanah dan pacuan kuda.

Syaikh as-Sa’di rohimahullah berkata:

بَابُ الْمُسَابَقَةِ والْمُغَالَبَةِ
409- وَهِيَ ثَلَاثَةُ أَنْوَاعٍ:
نَوْعٌ: يَجُوزُ بِعِوَضٍ وَغَيْرِهِ، وَهِيَ: مُسَابَقَةُ اَلْخَيْلِ وَالْإِبِلِ والسهام1. ونوع: يَجُوزُ بِلَا عِوَضٍ، وَلَا يَجُوزُ بِعِوَضٍ، وَهِيَ: جَمِيعُ اَلْمُغَالِبَاتِ بِغَيْرِ اَلثَّلَاثَةِ اَلْمَذْكُورَةِ، وَبِغَيْرِ اَلنَّرْدِ وَالشَّطْرَنْجِ1 وَنَحْوِهِمَا، فَتُحَرَّمُ مُطْلَقًا، وَهُوَ اَلنَّوْعُ اَلثَّالِثُ؛ لِحَدِيثِ: "لَا سَبَقَ إِلَّا فِي خُفٍّ أَوْ نَصْلٍ أَوْ حَافِرٍ" 2 رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالثَّلَاثَةُ3.
410- وَأَمَّا مَا سِوَاهَا: فَإِنَّهَا دَاخِلَةٌ فِي اَلْقِمَارِ وَالْمَيْسِرِ.

“Perlombaan itu ada tiga jenis, jenis pertama; boleh dengan hadiah atau tanpa hadiah, diantaranya: Pacuan kuda, pacuan unta dan memanah, jenis kedua; boleh tanpa hadiah dan tidak boleh dengan hadiah,  diantaranya; semua jenis perlombaan selain ketiga perlombaan yang telah disebutkan dan selain permainan dadu dan catur, maka dua ini haram secara mutlak, dan inilah jenis ketiga.”(Minhajus Salikin hal. 167-168)

Namun para Ulama sepakat bolehnya perlombaan dengan hadiah apabila:
1.    Kalau perlombaan tersebut adalah perlombaan yang mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan.
2.    Tidak masuk dalam perlombaan yang mengandung hal-hal yang diharamkan syari’at.
3.    Tidak bersifat  sia-sia dan melalaikan ibadah.
4.     Hadiahnya disediakan oleh orang ketiga yang bukan peserta lomba.

Imam Syaukani rohimahullah berkata:

فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى جَوَازِ السِّبَاقِ عَلَى جَعْلٍ، فَإِنْ كَانَ الْجُعْلُ مِنْ غَيْرِ الْمُتَسَابِقِينَ كَالْإِمَامِ يَجْعَلُهُ لِلسَّابِقِ فَهُوَ جَائِزٌ بِلَا خِلَافٍ

“Dan Hadist ini sebagai dalil bolehnya perlombaan dengan hadiah, maka apabila hadiahnya dari selain peserta lomba seperti imam yang memberikannya kepada peserta lomba maka lomba tersebut halal tanpa perbedaan pendapat.” (Nailul Author: 8/88)

HUKUM BERMAIN DAN BALAPAN MERPATI

Hukum bermain merpati dengan menerbangkannya adalah makruh yang mendekati keharaman, berdasarkan Hadist:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، رَأَى رَجُلًا يَتْبَعُ حَمَامَةً، فَقَالَ: " شَيْطَانٌ يَتْبَعُ شَيْطَانَةً ".

Dari abi Huroiroh,”Bahwasanya Nabi ﷺ melihat seseorang yang mengikuti seekor burung merpati, maka beliau berkata,’Syetan jantan mengikuti syetan betina.’”(HR. Ahmad dalam Musnad no. 8543, Abu Dawud dalam Sunan no. 4940, dishohihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shohih Wa Dho’if Sunan Abi Dawud)

Miliki buku-buku ini segera! Diskon Menarik
 Info lengkap <Klik di sini>

Imam Nawawi rohimahullah berkata:

إتخاذ الحمام للفرخ والبيض، أو الانس، أو حمل الكتب جائز بلا كراهة، وأما اللعب بها بالتطيير والمسابقة، فقيل: لا يكره، والصحيح أنه مكروه

“Mengambil merpati untuk diternak, hiburan atau untuk membawa surat adalah boleh tidak makruh. Adapun bermain dengan menerbangkannya dan memperlombakannya, maka katanya tidak makruh. Tapi pendapat yang betul adalah makruh.”(Roudhotut Tholibin:11/226-227, Tahqiq Zuhair Syawisy, al-Maktab al-Islami, Beirut, Damaskus, Amman, cet. Ketiga, 1412 H/1991 M, via Maktabah Syamelah)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata:

اللَّعِبُ بِالْحَمَامِ مَنْهِيٌّ عَنْهُ وَفِي السُّنَنِ {عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا يَتْبَعُ حَمَامَةً فَقَالَ: شَيْطَانٌ يَتْبَعُ شَيْطَانَةً} . وَمَنْ لَعِبَ بِالْحَمَامِ فَأَشْرَفَ عَلَى حَرِيمِ النَّاسِ أَوْ رَمَاهُمْ بِالْحِجَارَةِ فَوَقَعَتْ عَلَى الْجِيرَانِ فَإِنَّهُ يُعَزَّرُ عَلَى ذَلِكَ تَعْزِيرًا يَرْدَعُهُ عَنْ ذَلِكَ وَيُمْنَعُ مِنْ ذَلِكَ فَإِنَّ هَذَا فِيهِ ظُلْمٌ وَعُدْوَانٌ عَلَى الْجِيرَانِ؛ مَعَ مَا فِيهِ مِنْ اللَّعِبِ الْمَنْهِيِّ عَنْهُ

“Bermain merpati itu terlarang, dalam kitab Sunan (kemudian beliau menyebutkan hadist di atas). Barangsiapa bemain merpati lalu ia melihat istri orang dari atas atau dia melempar mereka dengan batu sehingga menimpa tetangganya maka dia ditegur atas perbuatan tersebut dengan teguran yang mencegah dan melarangnya dari perbuatan tersebut karena perbuatan itu bisa mendzolimi dan memusuhi tetangga serta mengandung permainan yang terlarang.”(Majmu’ul Fatawa:32/246,tahqiq Abdur Rohman bin Muhammad bin Qosyim, Majma’ al-Malik Fahd lit Thiba’ah Mushaf as-Syarif, Madinah, KSA, 1416 H/ 1995 M, Maktabah Syamelah)

As-Syaukani rohimahullah berkata:

فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى كَرَاهَةِ اللَّعِبِ بِالْحَمَامِ وَأَنَّهُ مِنْ اللَّهْوِ الَّذِي لَمْ يُؤْذَنْ فِيهِ، وَقَدْ قَالَ بِكَرَاهَتِهِ جَمْعٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ، وَلَا يَبْعُدُ عَلَى فَرْضِ انْتِهَاضِ الْحَدِيثِ تَحْرِيمُهُ؛ لِأَنَّ تَسْمِيَةَ فَاعِلِهِ شَيْطَانًا يَدُلُّ عَلَى ذَلِكَ، وَتَسْمِيَةَ الْحَمَامَةِ شَيْطَانَةً إمَّا لِأَنَّهَا سَبَبُ اتِّبَاعِ الرَّجُلِ لَهَا أَوْ أَنَّهَا تَفْعَلُ فِعْلَ الشَّيْطَانِ حَيْثُ يَتَوَلَّعُ الْإِنْسَانُ بِمُتَابَعَتِهَا وَاللَّعِبِ بِهَا لِحُسْنِ صُورَتِهَا وَجَوْدَةِ نَغْمَتِهَا.

“Hadist ini menunjukkan makruhnya bermain merpati dan ia termasuk hiburan yang tidak diizinkan. Sekelompok ulama’ telah mengatakan kemakruhannya, dan tidak jauh keharamannya berdasarkan jelasnya lafadz hadist karena penyebutan pelakunyadengan syetan jantan menunjukkan hal itu. Dan penyebutan merpati dengan Syetan betina adalah karena sebagai sebab  ikutnya orang laki-laki itu atau karena dia melakukan perbuatan syetan yang membuat orang suka mengikutinya dan mempermainkannnya karena keindahan bentuknya atau kemerduan suaranya.”(Nailul Author:8/106, tahqiqi “ishomuddin ash Shobabithi, Darul Hadist, Mesir, cet. Pertama, 1413 H/1993 M, Maktabah Syamelah)

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafidzohullah berkata:

أورد أبو داود باب اللعب بالحمام، أي: أنه لا يسوغ اتخاذ الحمام للعب به، لكن أن يتخذ للاستفادة منه، والانتفاع به، فلا بأس بذلك وهو سائغ، ولكن أن يتخذ للعب هذا هو الذي ترجم له المصنف وأورد فيه هذا الحديث عن رسول الله صلوات الله وسلامه وبركاته عليه، وفيه أنه رأى رجلاً يتبع حمامة يلعب بها، فقال: (شيطان يتبع شيطانة) فوصفه بأنه شيطان، وأن عمله من عمل الشياطين.
وقال للحمامة: إنها شيطانة، على اعتبار أنه ابتلي بها وافتتن بها، وإن كانت هي لا علاقة لها وإنما البلاء كله ممن لعب بها،

“Imam Abu Dawud menghadirkan bab bermain merpati, yaitu, bahwasanya tidak boleh mengambil merpati untuk bermain, namun diambil manfaat dan kegunaannya maka tidak apa-apa, boleh. Tetapi bila dijadikan permainan maka inilah yang dimaksud penyusun dalam membuat judul penafsiran dan menghadirkan hadist dari Rosulullah ﷺ ini. Dalam hadist ini diceritakan bahwa beliau melihat seseorang mengikuti seekor merpati sebagai permainan, maka beliau berkata,’Syetan jantan mengikuti syetan betina.’ Beliau mensifatinya sebagai syetan jantan dan perbuatannya termasuk perbuatan syetan. Sedangkan mengenai merpati beliau berkata,’Sesungguhnya dia adalah syetan betina, karena orang itu terkena bencana dan fitnahnya namun bencananya tidak ada hubungannya dengan merpati karena semuanya berasal dari yang memainkannya.”(Syarh Sunan Abi Dawud: 561/22, Durus Shouti dengan transkrip http://www.islamweb.net)

Sedangkan hukum lomba balapan merpati  adalah haram.

Syaikh ibnu utsaimin berkata:

فهذه السباقات للحمام أو الدجاج حرام، سواء بعوض أو بدون عوض أما بعوض فظاهر؛ لأنه ميسر، وأما بدون عوض؛ فلأنه ملهاة، والإنسان إذا فتن بمسابقة في الحمام صار ليله ونهاره كله مشغولاً بها، إما جسماً وقلباً وإما قلباً، فدعها.

“Maka perlombaan-perlombaan merpati dan ayam adalah haram, berhadiah atau tidak  sama saja. Adapun berhadiah maka jelas, karena dia judi, sedangkan tanpa hadiah maka karena ia melalaikan. Padahal manusia bila terkena fitnah perlombaan merpati maka jadilah siang dan malamnya sibuk dengannya baik fisik dan hatinya atau hatinya saja, maka tinggalkanlah!”(Liqo’ Babil Maftuh: 300/31, Durus Shouti dengan transkrip http://www.islamweb.net)

Oleh Abu Hasan as-Syihaby
Pagi di kawasan pantura kabupaten Lamongan Jatim, Ahad,19 Jumadil Ula 1437 H/ 28 Pebruari 2016 M

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jazakumullah atas kunjungan dan perhatian anda. Komentar yang bijak adalah kehormatan kami.